Skip to main content

Aceh Luncurkan FIP Purse Seine untuk Perbaikan Perikanan Tuna

Upaya mendorong perikanan berkelanjutan di Indonesia kembali menunjukkan perkembangan positif dengan diluncurkannya Program Perbaikan Perikanan (FIP) untuk komoditas tuna sirip kuning dan cakalang dengan alat tangkap pukat cincin (purse seine) di Banda Aceh pada 20 April 2026.

Peluncuran ini menjadi momentum penting yang mencerminkan semakin kuatnya komitmen pelaku industri perikanan dalam mendukung praktik penangkapan yang bertanggung jawab dan selaras dengan standar global keberlanjutan. Inisiatif ini diinisiasi oleh pelaku industri di Aceh, dengan dukungan berbagai mitra seperti INKLUSIF (sebuah lembaga perbaikan perikanan), pemerintah, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil.

Program ini merupakan tindak lanjut dari hasil pra-penilaian (pre-assessment) yang mengidentifikasi peluang perbaikan dalam pengelolaan perikanan purse seine di wilayah tersebut. Melalui pendekatan FIP, perbaikan dilakukan secara bertahap, terstruktur, dan transparan, dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan dalam penyusunan serta implementasi rencana aksi bersama.

Perikanan pelagis di Aceh, khususnya yang berbasis di Pelabuhan Perikanan Pantai Lampulo, telah berkembang pesat sejak 1970-an dan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi lokal. Namun, meningkatnya permintaan global terhadap produk perikanan, terutama tuna, juga diiringi dengan tuntutan yang lebih tinggi terhadap praktik keberlanjutan. Dalam konteks ini, FIP menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa pengelolaan sumber daya ikan dapat memenuhi ekspektasi pasar sekaligus menjaga kelestarian ekosistem laut.

Workshop peluncuran yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan menghasilkan kesepakatan awal terkait rencana aksi, termasuk penyusunan timeline, pembagian peran, serta identifikasi tantangan implementasi di lapangan. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci dalam memastikan keberhasilan program ke depan.

Direktur Program MSC di Indonesia, Hirmen Syofyanto menyampaikan saat pembukaan acara:

“Kami melihat semakin banyak pelaku industri di Indonesia yang secara aktif mengambil peran dalam mendorong perbaikan perikanan. Inisiatif seperti FIP ini menunjukkan bahwa keberlanjutan bukan hanya menjadi tanggung jawab bersama, tetapi juga kebutuhan strategis untuk menjaga akses pasar dan keberlanjutan sumber daya dalam jangka panjang.”

Meningkatnya keterlibatan sektor industri dalam inisiatif seperti FIP menunjukkan pergeseran penting dalam lanskap perikanan Indonesia. Pelaku usaha kini semakin melihat keberlanjutan tidak hanya sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebagai kebutuhan strategis untuk menjaga akses pasar dan keberlanjutan pasokan bahan baku.

Selain memberikan manfaat bagi ekosistem laut melalui perbaikan praktik penangkapan dan pengelolaan stok ikan, program ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat pesisir, termasuk nelayan, melalui penguatan kapasitas dan peningkatan tata kelola perikanan. 

Ke depan, implementasi rencana aksi akan menjadi fokus utama, dengan pemantauan kemajuan yang dilakukan secara berkala dan transparan. Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Indonesia bahwa kolaborasi antara industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan lainnya dapat mendorong transformasi menuju perikanan yang lebih berkelanjutan.

- SELESAI -